Bahagia itu Bukan Tujuan

Hai, jurnal hari ini saya ingin berbagi tentang fenomena yang jarang disadari namun hampir setiap orang melakukannya. Yuk, bahas!

Pernahkah kamu melihat momen bahagia seseorang?

Pernah dong,

Di mana?

Status Whatsapp teman, IG Story teman, Feed Instagram, bahkan melihatnya langsung baik momen yang disenagaja maupun tidak.

Momen bahagia sangat mudah kita temukan di era yang serba canggih seperti sekarang ini, bisa melihat momen-momen bahagia orang lain melalui akun media sosialnya tanpa harus mengenalnya terlebih dahulu. Sejatinya, seseorang menggunakan akun media sosialnya untuk berbagi kebahagian, dengan tujuan postingannya dapat menginspirasi banyak orang. Termasuk saya, memiliki tujuan demikian dalam perihal berbagi di media sosial. Inilah, fenomena yang saya maksud, ‘kebahagiaan’.

Kerap kali ‘bahagia’ dijadikan tujuan hidup, tidak menafikkan diri tak ada manusia yang ingin menjalani kehidupan ini dengan perasaan sedih, marah, benci, takut bahkan kecewa. Bisa jadi hal ini ada, dikarenakan pengaruh Aristoteles yang menentukan bahwa tujuan dari kehidupan adalah kebahagiaan. Sehingga kebahagiaan menjadi perasaan idaman setiap orang.

Bila tujuan manusia yang hidup di bumi untuk bahagia, maka sejatinya kita tidak merasakan perasaan bahagia itu sendri, karena, ketika kita hidup dengan satu perasaan saja, yaitu ‘bahagia’ maka tidak ada bentuk dari perasaan negatif maupun positif. Sedangkan, pada realitanya kehidupan ini bersifat dualitas, jika ada perasaan bahagia maka ada perasaan sedih, ada tawa juga ada tangis, ada cinta di sisi lain ada benci, dan lain sebagainya. Menjadi pemikiran yang salah jika bahagia itu menjadi sebuah tujuan, tepatnya seperti yang dikatakan James Strom bahwa kebahagiaan muncul dari kemampuan untuk berpikir secara bebas, berperasaan melalui hati yang terdalam, menghadapi tantangan hidup, dan rela memberi bantuan terhadap orang lain yang membutuhkan. Kalimat ini memberikan pemahaman terhadap kita semua bahwa kebahagiaan itu bukanlah tujuan hidup melainkan salah satu perasaan yang bisa kita rasakan kapanpun kita mau. Bahagia itu pilihan, jika bisa sekarang kenapa harus tunggu nanti?

Dengan artian, jika kebahagiaan dijadikan sebuah tujuan maka orang-orang akan berlomba-lomba mencapai kuantitas dari kebahagiaan yang ada, hingga lupa dengan definisi bahagia yang sebenarnya. Namun, entah ini telah menjadi konsesnsus umum atau apa, orang-orang telah menetapkan kebahagiaan menjadi tujuan hidup dan sampai-sampai berkumandang bahwa hidup dengan kebahagiaan yang sempurna bisa dicapai. Karena sudah terlanjur seperti itu maka tak heran ada kalimat ‘gagal bahagia’, artinya seseorang telah gagal mencapai tujuan hidupnya.

Tak ada yang keliru bahwa perasaan bahagia setiap orang itu berbeda-beda, seseorang bisa bahagia karena bisa makan 2 kali sehari, bisa melihat orang yang dicintai bahagia, bahkan tak jarang terjadi seseorang bisa bahagia hanya karena bisa tidur nyenyak. Jadi, mari jadikan bahagia itu sesimpel mungkin. Jika perlu sekarang, lakukanlah, salah satunya dengan cara merasakan kembali, mengingat apa-apa yang sudah kamu lalui lalu bersyukur karena  hanya kamu yang bisa malaluinya. Kembali tersenyum dan bangga dengan diri sendiri. Tidak serumit mengejar cita-cita, bukan?

Namun, jika saat ini perasaan sedih mendominasi perasaanmu, tidak masalah, karena seperti yang  saya katakan di peragraf sebelumnya, perasaan sedihlah yang akan membuatmu bisa merasakan apa itu ‘bahagia’. ;)

Menjadi catatan penting, bahagia itu hak semua orang, silahkan gunakan sesuka hati tanpa harus menjadikannya tujuan dan saya pun berharap kita semua bahagia. Tapi jika ditanya sampai berapa kalipun, tujuan hidup itu bukan bahagia, tujuan hidup itu, ya kehidupan itu sendiri.

Sampai jumpa di jurnal selanjutnya. See you,,  


Komentar