Tidak Perlu Memahami Semua Orang
Terkadang lingkungan memang menuntut kita untuk memahami apa yang terjadi, khususnya dalam perihal memahami orang lain yang notabennya dekat dengan kita, seperti sanak keluarga, teman, bahkan kerap kali terjadi, keadaan juga meminta kita untuk memahami orang lain, entah siapa orangnya. Begitulah konsensus sosial yang ada, mengajak kita untuk saling memahami satu dengan yang lain. Namun apakah itu perlu? Jika dilihat dari urgensinya budaya seperti itu melindungi secara subjektif untuk bisa aman dari lika-liku hidup bermasyarakat. Jika ditanya perlu, jawabannya perlu, namun tidak harus semuanya dipahami. Saya akan memberi contoh keadaan yang kerap kali meminta untuk dipahami, sebagai seorang perempuan yang sudah berkepala dua plus-plus.., tak jarang sanak keluarga bahkan teman yang menanyakan pertanyaan seperti, Kapan mau nikah?, Kerja di mana?, Sudah punya tabungan kan? , dan uniknya pertanyaan sensitif ini sudah menjadi budaya. Tidak ada yang keliru dengan pertanyaan yang terlontar...