Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Tidak Perlu Memahami Semua Orang

Terkadang lingkungan memang menuntut kita untuk memahami apa yang terjadi, khususnya dalam perihal memahami orang lain yang notabennya dekat dengan kita, seperti sanak keluarga, teman, bahkan kerap kali terjadi, keadaan juga meminta kita untuk memahami orang lain, entah siapa orangnya. Begitulah konsensus sosial yang ada, mengajak kita untuk saling memahami satu dengan yang lain. Namun apakah itu perlu? Jika dilihat dari urgensinya budaya seperti itu melindungi secara subjektif untuk bisa aman dari lika-liku hidup bermasyarakat. Jika ditanya perlu, jawabannya perlu, namun tidak harus semuanya dipahami. Saya akan memberi contoh keadaan yang kerap kali meminta untuk dipahami, sebagai seorang perempuan yang sudah berkepala dua plus-plus.., tak jarang sanak keluarga bahkan teman yang menanyakan pertanyaan seperti, Kapan mau nikah?, Kerja di mana?, Sudah punya tabungan kan? , dan uniknya pertanyaan sensitif ini sudah menjadi budaya. Tidak ada yang keliru dengan pertanyaan yang terlontar...

Bahagia itu Bukan Tujuan

Hai, jurnal hari ini saya ingin berbagi tentang fenomena yang jarang disadari namun hampir setiap orang melakukannya. Yuk, bahas! Pernahkah kamu melihat momen bahagia seseorang? Pernah dong, Di mana? Status Whatsapp teman, IG Story teman, Feed Instagram, bahkan melihatnya langsung baik momen yang disenagaja maupun tidak. Momen bahagia sangat mudah kita temukan di era yang serba canggih seperti sekarang ini, bisa melihat momen-momen bahagia orang lain melalui akun media sosialnya tanpa harus mengenalnya terlebih dahulu. Sejatinya, seseorang menggunakan akun media sosialnya untuk berbagi kebahagian, dengan tujuan postingannya dapat menginspirasi banyak orang. Termasuk saya, memiliki tujuan demikian dalam perihal berbagi di media sosial. Inilah, fenomena yang saya maksud, ‘kebahagiaan’. Kerap kali ‘bahagia’ dijadikan tujuan hidup, tidak menafikkan diri tak ada manusia yang ingin menjalani kehidupan ini dengan perasaan sedih, marah, benci, takut bahkan kecewa. Bisa jadi hal ini...

Berhenti Bersikap Kalah

Dewasa ini, kita kerap dihadapkan dengan persoalan ‘harga diri’, persoalan yang tak pernah habis diperbincangkan karena pengaruhnya yang cukup signifikan bagi keberlangsungan hidup seseorang. Berbincang mengenai harga diri bukanlah hal yang berat untuk diketahui karena pada dasarnya, harga diri hanyalah perihal penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Jika dilihat dari segi maknanya, menghargai diri sendiri bukanlah hal yang rumit untuk dilakukan, bahkan sejak belia pun hal tersebut kerap kita lakukan dengan menganggap diri orang paling cantik ketika di depan cermin atau paling gagah ketika tak lagi mengompol saat tidur. Mudah bukan? Namun hal yang mudah tersebut menjelma menjadi aktivitas rumit saat diri beranjak dewasa, lebih-lebih ketika kita dihadapkan dengan peristiwa yang menghancurkan hidup kita secara brutal, baik itu karena ulah diri sendiri maupun sikap orang lain terhadap kita, sehingga timbul penilaian bahwa kita tidak lagi memiliki harga diri sebagai manusia. Tak jaran...

Capek Boleh, Nyerah Jangan!

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang rutinitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Namun, agar pembahasan kali ini lebih spesifik saya akan memilih satu dari sekian banyak rutinitas yang ada. Saya memilih rutinitas ‘bertemu orang lain’, saya menyebutnya sebuah rutinitas karena hal ini sering kali dialami mayoritas individu setiap harinya, kegiatan ini membuat saya terus bersyukur dan menghargai setiap peristiwa yang terjadi, karena konon katanya tidak ada kebetulan di dunia ini. Bertemu teman, tetangga, guru, bahkan orang asing sekalipun. Jika tidak ada peristiwa yang kebetulan maka tidak ada pertemuan tanpa alasan. Saya ingin berbagi cerita terkait rutinitas yang satu ini, di sebuah momen yang sulit, saya sedang mengahadapi sebuah permasalahan rumit. Merasa tak ada yang dapat mengerti selain diri sendiri, oleh karena itu saya memutuskan pergi ke suatu tempat untuk sekadar menenangkan pikiran dan hati, dan saya harap dengan begitu saya akan menemukan titik t...

Harta Paling Berharga

Hai sababat jurnalku, mari kita kembali berbincang ringan dan menyenangkan! Hari ini saya ingin mengajak para pembaca setia jurnal Mudrikah’s Blog untuk mengenal lebih dalam dengan sesuatu yang paling berharga, setiap manusia memilikinya tanpa terkecuali, apa itu?, jawabannya adalah pikiran. Setiap individu manusia dianugerahkan pikiran, pikiran yang bisa dibentuk dengan tipe apapun sesuai dengan perintah tuan yang memilikinya. Pikiran adalah harta paling berharga, namun sayangnya tak semua orang menyadarinya bahkan menjadi budak atas pikirannya sendiri. Selanjutnya saya ingin menanyakan sesuatu, Pernahkan kamu menduga suatu keadaan, lalu apa yang kamu pikirkan menjadi kenyataan? Kita sepakati saja bahwa kamu pernah mengalaminya, lalu, mengapa terjadi demikian? Seringkali peristiwa seperti ini kerap disebut sebagai peristiwa langka dan ajaib, karena alur hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita pikiran. Apakah kamu juga berpikir hal yang sama? Karena itulah mengapa saya m...

Seutas Pencapaian Diri

Hari ini saya ingin berbagi seutas pencapaian, apa itu? Yaitu menerima diri sendiri secara utuh. Saya menyebutnya sebuah pencapaian karena bagi saya penerimaan diri bukanlah hal yang instan untuk dilakukan, perlu dilatih bahkan membutuhkan waktu yang tak bisa ditentukan. Apakah benar serumit itu?, rumit atau tidak bukanlah sebuah persoalan karena setiap individu manusia memiliki alur hidup dan pengalamannya masing-masing. Pencapaian ini hanya bisa dirasakan oleh tuan yang berhasil memperjuangkannya, tak dapat dilihat oleh orang lain, dan memang tidak membutuhkan penilaian eksternal. Hanya perlu menerima utuh, menjalani hidup penuh kebersyukuran, dan menghargai setiap langkah yang sudah dilalui.   Dewasa ini banyak hal yang saya peroleh, lebih-lebih dalam mengatasi segala macam keadaan yang sebelumnya tak terbesit mewarnai alur hidup, sebagian besar terjadi di luar dugaan saya. Semesta memang tak pernah bosan memberikan kejutan, namun ingat! Kejutan yang diberikan tak melulu hal-h...

Bucin Jika Perlu

Jurnal kali ini, saya ingin bercerita soal cinta, pembahasan yang tak pernah usang untuk dijadikan perbincangan. Seakan terus menjadi topik hangat yang menarik untuk dibahas dan uniknya khalayak tak terlalu mempedulikan siapa tokoh yang berperan di balik kisah. Kenapa begitu?, bisa jadi karena setiap individu manusia memiliki perasaan dan haknya untuk jatuh cinta. Mencintai ataupun dicintai hanyalah sebuah pilihan, setiap orang bisa memilih salah satunya, keduanya memiliki hitam dan putihnya masing-masing. So, be wise about that! Konon katanya, cinta itu tak bisa diatur, tiba-tiba muncul dan tumbuh menjadi rasa. Benar begitu?, namun di samping itu tak sedikit orang yang mengamini bahwa setulus apapun cintanya pasti ada alasan mengapa dia jatuh cinta, saya pun termasuk orang yang mengindahkan asumsi ini. Karena rasa cinta itu bisa saja berawal dari rasa kagum hingga akhirnya ke tahap suka lalu muncullah rasa ingin memiliki. Rasa kagum terhadap orang lain karena kemampuan ataupun perihal...

Berani Memilih dan Menjalani

Hidup itu lucu ya, nggak pernah bosan menawarkan pilihan dan terkadang pilihan yang disediakan tak melulu antara  hitam atau putih alias di luar dugaan. Tetapi tetap saja waktu menuntut kita untuk segera memilih, karena jika tidak, waktu akan menelan dengan sigap, tertinggal lalu terlupakan. Sungguh mengerikan, bukan? Memillih adalah aktivitas yang selalu dilakukan seseorang ketika hendak melakukan sesuatu. Dimulai sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Apapun pilihan yang diambil nantinya, tentu akan menjadi alur hidup kedepannya. Berbicara tentang ‘memilih’, saya jadi teringat dengan sebuah qoute tak bertuan, begini tulisannya: “ Tidak memilih adalah sebuah pilihan ” (Sebelum lanjut membaca silahkan ulangi kalimat di atas dan setelah itu berikan pendapatmu) Apakah kamu setuju dengan kalimat di atas? Atau kamu termasuk orang yang pernah melakukannya, karena pilihan yang tersedia tak ada yang memihakmu, pernahkah? Awalnya, saya setuju dengan kalimat di atas. Namun dewas...

Hari Penuh Kelimpahan di Nepal Van Java Dusun Butuh

Gambar
Di sore hari pukul 15:00 WIB, saya telah berpakaian rapi walau sekadar untuk berkeliling kota mengejar senja di langit Jogja. Namun berkeliling kota ternyata tidak cukup memakan waktu untuk bisa segera menikmati semburat jingga-Nya, sehingga saya dan teman saya, Nasywa, bertekad untuk menuju ke tempat yang sudah lama ingin kami kunjungi, yaitu Kebun Strawberry di Jalan Magelang.   Sesampainya di tujuan, kami dikecewakan oleh keadaan yang kurang berpihak, Kebun Strawberrynya sedang tutup. Selanjutnya apa yang kami lakukan?, Kembali ke Jogja?, Berkunjung ke tempat lain?, atau berdiam diri karena geram?, mengingat tujuan awal adalah jalan-jalan maka kami sepakat untuk mengunjungi tempat lain. Tempat yang akan kami tuju ialah Nepal Van Java Dusun Butuh, Jawa Tengah. Jika di lihat menggunakan Google Maps perjalanan menuju lokasi akan memakan waktu kurang lebihnya satu jam lima belas menit, cukup memakan waktu. Namun, karena    waktu masih menunjukkan pukul    15:30 W...

Guru Bukan Sembarang Guru

Gambar
Di sebuah momen yang mengecewakan, “Tak apa sekarang gagal, besok pasti berhasil, coba lagi, pasti bisa!”, ujar seorang guru. kalimat yang selalu beliau lontarkan ketika saya mengalami kegagalan dan karena kalimat itu, saya sempat menyimpulkan bahwa keberhasilan adalah sebuah keajaiban yang mana semua orang mengidamkannya, akan jatuh secara acak yang akhirnya bisa manusia sebut sebagai keberuntungan. Apakah benar seperti itu?, begitulah pemikiran seorang gadis kecil yang sedang kecewa terhadap dirinya sendiri. Mungkin saat itu saya masih terlalu dini untuk memahami makna tersirat dari kalimat tersebut. Jika kembali mengingat, kala itu, saya adalah seorang siswi yang masih duduk di bangku kelas 7 Sekolah Menengah Pertama. Tumbuh sebagai anak yang memiliki ambisius tinggi, ceria tapi cengeng, dan banyak memiliki teman. Jika dibandingkan dengan keadaan sekarang, tentu jauh berbeda karena masa itu adalah masa bebas melakukan apapun tanpa mengkhawatirkan resiko yang akan dihadapi, beran...