Berhenti Bersikap Kalah
Dewasa ini, kita kerap dihadapkan dengan persoalan ‘harga diri’, persoalan yang tak pernah habis diperbincangkan karena pengaruhnya yang cukup signifikan bagi keberlangsungan hidup seseorang. Berbincang mengenai harga diri bukanlah hal yang berat untuk diketahui karena pada dasarnya, harga diri hanyalah perihal penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Jika dilihat dari segi maknanya, menghargai diri sendiri bukanlah hal yang rumit untuk dilakukan, bahkan sejak belia pun hal tersebut kerap kita lakukan dengan menganggap diri orang paling cantik ketika di depan cermin atau paling gagah ketika tak lagi mengompol saat tidur. Mudah bukan?
Namun hal yang mudah tersebut menjelma menjadi aktivitas rumit saat diri beranjak dewasa, lebih-lebih ketika kita dihadapkan dengan peristiwa yang menghancurkan hidup kita secara brutal, baik itu karena ulah diri sendiri maupun sikap orang lain terhadap kita, sehingga timbul penilaian bahwa kita tidak lagi memiliki harga diri sebagai manusia. Tak jarang khalayak mengatakan bahwa kehilangan harga diri adalah titik terendah seseorang. Mengapa begitu? Jawabannya, karena tak sedikit seseorang yang mengalami fase tersebut tak lagi aktif menjalani hidup sebagai mana biasanya, mereka cenderung murung, putus asa, trauma, bahkan depresi karena merasa menjadi orang terhina di dunia dan beranggapan apapun usaha yang akan dilakukan tidak akan mengembalikan harga diri yang telah hilang dalam dirinya.
Lalu, apakah mereka akan terus seperti itu? Mungkin sebagian orang akan menyangkal pertanyaan ini karena segala bentuk masalah hadir beserta jalan keluarnya. Namun sayangnya tak semua orang berpikir demikian, tak jarang yang memilih diam sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi, karena bagi mereka diam memang tidak menyelesaikan masalah tapi setidaknya dengan diam mereka tidak menimbulkan masalah, apakah benar seperti itu?, apakah dengan berdiam diri benar-benar tidak menimbulkan masalah? Jangan-jangan mereka memang tidak ingin keluar dari keadaan tersebut, tidak melakukan apapun, dan membiarkan dirinya terus merasa hina sepanjang hidupnya. Apakah benar seperti itu yang mereka inginkan? Jawabannya, cukup direnungkan dalam hati masing-masing ya..
So, mari jadikan diri kita bagian dari orang yang meyakini bahwa sekrusial apapun masalah pasti ada solusinya, termasuk kembali memulihkan harga diri yang pernah kita anggap hilang. Menurut Yoon Hong Gyun seorang dokter sekaligus Trainer Harga Diri menjelaskan bahwa harga diri itu dapat dipulihkan karena baginya hidup adalah proses jatuh bangunnya harga diri. Pemulihan harga diri dapat dicapai oleh setiap individu, hanya saja rentang waktunya yang berbeda-beda. Selanjutnya saya akan membagi 2 praktik seni menghargai diri sendiri, pertama, menerima seutuhnya diri sendiri.
Banyak hal yang menyenangkan jika membahas perihal ‘menerima’ seperti halnya menerima kabar gembira, menerima hadiah, menerima kasih sayang, hingga menerima sebuah penghargaan. Tentunya keadaan tersebut mengundang senyum dan haru bagi setiap individu yang pernah merasakan momen tersebut. Hal ini tak berbeda dengan praktik menerima seutuhnya diri sendiri karena praktik tersebut mengajak untuk mampu menerima segala hal yang telah terjadi baik itu kenangan yang buruk sekalipun. Menjadi praktik yang menyenangkan karena dengan menerima diri sendiri secara utuh kita akan menyadari bahwa hal pertama yang perlu dilakukan untuk kembali menghargai diri sendiri ialah membebaskan diri dari keterbelengguan kesalahan di masa lalu. Betapa menyenangkan jika kita mampu memaafkan dan mengikhlaskan kenangan yang tak manis dan menerima hikmah dari segala peristiwa yang sudah terjadi.
Kedua, berhenti bersikap kalah. Bersikap kalah dapat digambarkan ketika kita tidak ingin beranjak dari masalah yang dihadapi. Disebut kalah karena hanya bisa menerima tanpa ada usaha menyelesaikannya atau bahkan lari dari masalah.
Praktik kedua ini mengajak kita untuk berhenti meragukan diri sendiri, alias berhenti menjadi pengecut. Namun jika kamu mengira bahwa orang pengecut tidak tegas atau kebingungan saat harus mengambil keputusan, kamu salah. Mereka teguh, teguh pada keyakinan bahwa mereka tidak akan bisa. Nah, praktik ini memberi tantangan kepada kita untuk mehancurkan keyakinan tersebut dengan bersikap siap dan dipenuhi rasa percaya diri.
Sampai jumpa di jurnal selanjutnya. See you,,
Komentar
Posting Komentar