Bucin Jika Perlu
Jurnal kali ini, saya ingin bercerita soal cinta, pembahasan yang tak pernah usang untuk dijadikan perbincangan. Seakan terus menjadi topik hangat yang menarik untuk dibahas dan uniknya khalayak tak terlalu mempedulikan siapa tokoh yang berperan di balik kisah. Kenapa begitu?, bisa jadi karena setiap individu manusia memiliki perasaan dan haknya untuk jatuh cinta. Mencintai ataupun dicintai hanyalah sebuah pilihan, setiap orang bisa memilih salah satunya, keduanya memiliki hitam dan putihnya masing-masing. So, be wise about that!
Konon katanya, cinta itu tak bisa diatur, tiba-tiba muncul dan tumbuh menjadi rasa. Benar begitu?, namun di samping itu tak sedikit orang yang mengamini bahwa setulus apapun cintanya pasti ada alasan mengapa dia jatuh cinta, saya pun termasuk orang yang mengindahkan asumsi ini.
Karena rasa cinta itu bisa saja berawal dari rasa kagum hingga akhirnya ke tahap suka lalu muncullah rasa ingin memiliki. Rasa kagum terhadap orang lain karena kemampuan ataupun perihal lainnya sudah menjadi hal yang wajar terjadi, bahkan mengagumi sesuatu sekali pun juga akan menjadi hal yang indah bagi yang seseorang yang merasakannya. Saya jadi ingin bertanya,
Pernahkah kamu mengagumi seseorang hingga ke tahap mencintainya?
Atau bahkan, saat ini kamu sedang merasakannya?
Boleh-boleh saja, asal bahagia menjalani hidup dengan keadaan hati yang telah kamu pilih. Pertanyaan selanjutnya yang ingin saya tanyakan,
Adakah cinta sepanjang masa?
Biar saya tebak, cinta sepanjang masa ialah cinta orang tua kepada putra-putrinya. Ayah yang tak pernah berucap lelah untuk memastikan keluarganya bahagia dan Ibu yang tak pernah jenuh melindungi keluarga. Keduanya bak malaikat tanpa sayap, kebaikan dan ketulusan yang diberikan tak akan pernah lekang oleh waktu, cinta mereka berseri sepanjang masa. Benar begitu?, sebagian besar anak mungkin mengamini jawaban saya ini namun beberapa menganggapnya hanya sebuah sya'ir semata, saya memahaminya.
- - - -
Tak terhenti di sini, masih ada pertanyaan berikutnya,
Siapa manusia yang kamu cintai?
1. ......
2. ......
3. ......
Sudah terjawab???
Jika sudah, saya harap namamu juga kamu tulis di list manusia yang kamu cintai. Bahkan, jika perlu namamu berada di list nomor 1, menjadikan diri sendiri sebagai manusia yang paling kamu cintai. Hayoo.. siapa yang belum ngelist nama sendiri?, kamu punya tugas nih, tugasnya baca jurnal ini hingga tuntas ya! :D
- - - -
Mari kita bahas!!!
Mencintai diri sendiri menjadi hal yang sering kali terabaikan, seakan tak perlu diperhatikan, padahal dampaknya begitu signifikan.
Katakanlah, tidak ada cinta sebuta cinta orang tua terhadap anaknya, tidak mengharap balasan apapun dan mencintai kita apa adanya. Tanpa menafikan diri cinta seperti itulah yang ingin kita dapatkan dan selalu jadi harapan. Oleh karena itu, saya ingin siapapun yang membaca jurnal ini, saya harap kamu bisa 100% mencintai diri sendiri.
Karena fenomena yang kerap terjadi, semakin dewasa seseorang akan semakin memberi syarat terhadap dirinya sendiri. Seperti halnya perkataan di bawah ini:
“Saya akan melakukan itu ketika saya telah mampu melakukan ini”
Perkataan tersebut sudah menempatkan diri kita, seolah-olah tak layak mendapatkan apa yang kita inginkan, sebelum syarat yang kita buat sendiri terpenuhi. Benar?
Boleh saja setuju bahwa di balik rasa cinta itu ada alasan, tapi apakah saat mencintai seseorang kita memberi syarat terhadap diri sendiri?, saya rasa tidak, kamu membiarkannya mengalir begitu saja. Jika iya, itu cinta atau lowongan kerja?, uups sorry..
Jadi, hal yang harus kita lakukan selanjutnya ialah memberikan diri sendiri cinta yang kita harapkan, menerima bagaimana pun diri kita dan tak memberi syarat. Kita bisa berniat mencintai diri sendiri mulai hari ini, mencintai segala sifat, perilaku, dan mengagumi alur hidup yang kita miliki, karena dengan begitulah kita dapat 100% mencintai diri sendiri.
Sampai jumpa di jurnal selanjutnya, see you...
Oiya, terima kasih sudah melaksanakan tugas 😎
Komentar
Posting Komentar