Capek Boleh, Nyerah Jangan!

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang rutinitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Namun, agar pembahasan kali ini lebih spesifik saya akan memilih satu dari sekian banyak rutinitas yang ada. Saya memilih rutinitas ‘bertemu orang lain’, saya menyebutnya sebuah rutinitas karena hal ini sering kali dialami mayoritas individu setiap harinya, kegiatan ini membuat saya terus bersyukur dan menghargai setiap peristiwa yang terjadi, karena konon katanya tidak ada kebetulan di dunia ini.

Bertemu teman, tetangga, guru, bahkan orang asing sekalipun. Jika tidak ada peristiwa yang kebetulan maka tidak ada pertemuan tanpa alasan. Saya ingin berbagi cerita terkait rutinitas yang satu ini, di sebuah momen yang sulit, saya sedang mengahadapi sebuah permasalahan rumit. Merasa tak ada yang dapat mengerti selain diri sendiri, oleh karena itu saya memutuskan pergi ke suatu tempat untuk sekadar menenangkan pikiran dan hati, dan saya harap dengan begitu saya akan menemukan titik terang sebagai solusi permasalahan. Namun, siapa sangka saat saya mulai menenangkan diri ada seorang perempuan asing yang datang memhampiri dan menanyakan keadaan saya yang duduk sendiri di sudut caffe. Saya menjawabnya “baik-baik saja” sambil tersenyum kepadanya dengan harapan dia tidak melihat keadaan saya yang sebenarnya.

“Oke, kalau kamu sedang baik-baik saja, bersyukurlah kerena Tuhan masih baik kepadamu”, ujarnya.

Mendengar tanggapan seperti itu, dia berhasil membuat saya penasaran seakan-akan dia juga sedang menghadapi permasalahan,

“Ada masalah apa?, sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja”, Tanya saya memastikan.

Ternyata, benar dugaan saya dia sedang menghadapi hal yang sama, sama-sama menghadapi masalah besar. Setelah mendengar ceritanya dari A sampai Z, secara tidak langsung saya merasa tertampar habis-habisan olehnya, ternyata permasalahan yang dia hadapi jauh lebih berat dari masalah yang sedang saya alami. Banyak pembelajaran yang saya ambil dari kisahnya yang penuh lika-liku kehidupan, hal yang pasti dari pertemuan ini, telah berhasil membuat saya menyadari bahwa setiap orang telah memilki lika-likunya masing-masing dan meyakini bahwa masalah itu jatuh bersama solusinya, namun sayangnya solusi tidak akan hadir tanpa dijemput.

Capek boleh, nyerah jangan!

Ada hal yang begitu mengesankan, saat dia selesai menceritakan semua keluh kesahnya, saya bertanya kembali kepadanya,

“Ada yang bisa saya bantu?”

Bagaimana tidak, dia menceritakan masalahnya sambil menangis seakan keadaanya sangat hancur, namun apa tanggapannya, dia menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang membuat saya tertegun,

“Tidak perlu, saya hanya perlu didengar dan terima kasih sudah mau mendengarnya”, ujarnya.

Saya menanggapinya dengan senyum bangga bisa bertemu perempuan hebat seperti dia, menjadi pertemuan yang luar biasa bagi saya meski hanya menjadi pendengar untuknya. Inilah kebersyukuran yang saya maksud saat bertemu orang lain, meski tidak bisa menolong satu halpun setidaknya bisa menjadi seseorang yang dia butuhkan yaitu seorang pendengar. Ternyata hanya dengan menuangkan masalah dapat meringankan beban tokoh yang sedang mengalaminya, dan ternyata menjadi seorang pendengar tidaklah sebosan yang dipikirkan bahkan peran itu memiliki maksud mulia di baliknya.

Banyak hal yang bisa didapat saat bertemu orang lain, mulai dari sebuah kisah, pengalaman, maupun masalah yang sedang dihadapi oleh lawan bicara karena bisa jadi apa yang kita dengar darinya menjadi jawaban yang selama ini kita cari. Namun, untuk bisa mendapatkan pembelajaran itu mau tidak mau kita harus membiasakan diri menjadi pendengar yang baik, mendengarnya dengan penuh, utuh, dan pastikan tanggapan yang kita berikan tidak membuat lawan bicara mengaggap dirinya sedang mengganggu kita.

Sampai jumpa di jurnal selanjutnya. See you,,

Komentar