Guru Bukan Sembarang Guru
Di sebuah momen yang mengecewakan,
“Tak apa sekarang
gagal, besok pasti berhasil, coba lagi, pasti bisa!”, ujar seorang guru.
kalimat yang selalu beliau
lontarkan ketika saya mengalami kegagalan dan karena kalimat itu, saya sempat
menyimpulkan bahwa keberhasilan adalah sebuah keajaiban yang mana semua orang
mengidamkannya, akan jatuh secara acak yang akhirnya bisa manusia sebut sebagai
keberuntungan. Apakah benar seperti itu?, begitulah pemikiran seorang gadis
kecil yang sedang kecewa terhadap dirinya sendiri.
Mungkin saat itu saya
masih terlalu dini untuk memahami makna tersirat dari kalimat tersebut. Jika
kembali mengingat, kala itu, saya adalah seorang siswi yang masih duduk di
bangku kelas 7 Sekolah Menengah Pertama. Tumbuh sebagai anak yang memiliki ambisius
tinggi, ceria tapi cengeng, dan banyak memiliki teman. Jika dibandingkan dengan
keadaan sekarang, tentu jauh berbeda karena masa itu adalah masa bebas melakukan
apapun tanpa mengkhawatirkan resiko yang akan dihadapi, berani menjawab segala
bentuk pertanyaan tanpa takut benar atau salah, menulis sesuka hati tanpa
peduli mendapat kritik, bahkan bebas menilai teman tanpa cemas akan
kehilangannya. Sungguh mengasyikkan, bukan?, tak heran jika banyak orang dewasa
yang ingin kembali ke masa itu, termasuk saya sendiri.
Kembali ke topik awal,
ajaibnya, setelah mendapat kalimat tersebut saya berhasil mendapatkan apa yang
sebelumnya gagal untuk diraih. Saya
menyebutnya sebuah anugerah, anugerah yang terus saya rasakan hingga duduk di
bangku Sekolah Menengah Atas dan saat itulah saya mulai merenungi peristiwa
demi peristiwa yang telah saya lalui. Alhasil,
saya bisa memahami dan menemukan makna tersiratnya. Ternyata membutuhkan waktu
bertahun-tahun ya..
- - - -
Mari kita bahas!
Tak ada satupun manusia
yang mau mengalami kegagalan, bak monster yang hendak meruntuhkan bahkan
menelan asa seseorang, menakutkan dan kejam. Tak jarang saya menangis ketika
gagal meraih sesuatu, merasa kecewa terhadap diri sendiri karena usaha yang
selama ini dilakukan belum maksimal. Seperti yang saya jelaskan di jurnal
sebelumnya bahwa ketika seseorang mengalami kegagalan maka dia belum membangun
niat 100% untuk mencapai keberhasilan.
Namun, untuk mencapai
angka 100% bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, ada banyak pengorbanan di
dalamnya, seperti waktu, tenaga, materi, dan yang paling banyak terjadi untuk
mencapai angka tersebut seseorang seakan diberi pengalaman terlebih dahulu untuk merasakan apa itu kegagalan. Mengapa begitu?. Pengalaman saya pribadi, kegagalan
memberi saya jeda untuk mengevaluasi diri, menemukan puzzle yang belum saya pahami, bahkan membuat saya dapat menemukan
trik dan pola untuk bisa meraih keberhasilan di kesempatan selanjutnya. Bagi
saya, kegagalan adalah salah satu guru kehidupan. Namun, meski begitu kegagalan
tetaplah keadaan yang mengecewakan, menyedihkan, bahkan bisa menjadi titik akhir seseorang dalam
berjuang. Ada pesan dari saya untukmu yang sedang membaca jurnal ini,
“Kegagalan itu perlu,
asal tak melulu. Bangkitlah lalu menanglah!”
Seperti penjelasan saya
sebelumnya, bahwa kegagalan itu adalah guru, guru bukan sembarang guru. Kenapa
begitu? karena untuk menjadi muridnya tak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun
hanya butuh sikap siap untuk menghadapi apapun yang nantinya terjadi dan yang
pasti kegagalan itu sendiri. Mudah bukan? Tapi tak sedikit orang yang tumbang
setelah berguru kepadanya, memilih diam agar tak lagi ada yang kecewa
karenanya. Apakah kamu termasuk salah satunya?, saya harap kamu tak selemah itu.
Salah satu potret saya saat meraih kejuaraan menulis
karya ilmiah
dan pencapaian ini merupakan hasil setelah dilatih oleh guru yang bernama Kegagalan.
- - - -
Menikmati proses demi
proses menjadikan kehidupan ini semakin berwarna. Warna-warni keadaan dan rasa akan terus melengkapi alur kehidupan ini. Oleh karena itu, saya
bersyukur pernah diberi kesempatan untuk mengalami kegagalan karena
keadaan itu membuat saya memahami suatu hal yang begitu bermakna, bahwa
kehidupan ini terlalu berharga jika hanya digunakan untuk merasakan kepuasan
semata. Menghargai sebuah proses adalah cara menikmati hidup serta menyayangi
diri sendiri, tak ada yang sia-sia di dunia ini melainkan kita sebagai
penghuninya diminta untuk terus berjuang dan menyelesaikan yang sudah dijalani.
Sampai jumpa di jurnal selanjutnya, see you..

Lagi-lagi perlu disadari bahwa banyak kegagalan yang membawa kita pada lompatan-lompatan yg tak terkira sebelumnya. Tak ada pilihan mundur apalagi putar balik. Lanjutkeunn to be a long life learner π
BalasHapusThank you Grid, sudah membaca jurnal ini π
HapusTerbukti dari masa sekolah menengah pertama sudah memiliki mental suka proses. Tidak salah kalau piala pencapaian menjadi hak penulis ceria ini. Terus berproses, terus manfaat. π
BalasHapusKegagalan memang harus banyak dihabiskan di usia muda, agar nanti di masa tua tinggal menikmati hasilnya dan fokus mendidik para generasi muda setelah kita. Gak apa-apa, semuanya tentang pembelajaran. Semangat selalu, Hilmi! Tulisanmu sudah jauh lebih baik dari ketika pertama kali kita mentoring di tahun lalu. Proud of you :D
BalasHapus