Seutas Pencapaian Diri
Hari ini saya ingin berbagi seutas pencapaian, apa itu? Yaitu menerima diri sendiri secara utuh. Saya menyebutnya sebuah pencapaian karena bagi saya penerimaan diri bukanlah hal yang instan untuk dilakukan, perlu dilatih bahkan membutuhkan waktu yang tak bisa ditentukan. Apakah benar serumit itu?, rumit atau tidak bukanlah sebuah persoalan karena setiap individu manusia memiliki alur hidup dan pengalamannya masing-masing. Pencapaian ini hanya bisa dirasakan oleh tuan yang berhasil memperjuangkannya, tak dapat dilihat oleh orang lain, dan memang tidak membutuhkan penilaian eksternal. Hanya perlu menerima utuh, menjalani hidup penuh kebersyukuran, dan menghargai setiap langkah yang sudah dilalui.
Dewasa ini banyak hal yang saya peroleh, lebih-lebih dalam mengatasi
segala macam keadaan yang sebelumnya tak terbesit mewarnai alur hidup, sebagian
besar terjadi di luar dugaan saya. Semesta memang tak pernah bosan memberikan kejutan,
namun ingat! Kejutan yang diberikan tak melulu hal-hal yang menyenangkan, ada
pula yang mengecewakan. Siap
menerimanya?, Surprise!!! :D
Bahagia atau kecewa adalah buah dari usaha yang dilakukan,
semesta akan memberikan kejutan yang sebanding. Jadi, tak perlu khawatir. ;)
Hal yang menarik untuk diperbincangkan ialah respon ketika kita
menerima kejutan tersebut, terlebih ketika kejutan yang kita terima tak sesuai dengan ekspektasi. Tak sedikit orang yang mengalami hal demikian, bahkan
bisa dikatakan setiap orang pernah merasakannya. Ada 2 tipe respon, pertama, orang tersebut
akan memikirkan hal-hal yang belum dipersiapkan untuk bisa maksimal, kedua,
orang tersebut akan mengeluh dan menyalahkan keadaan bahkan tak jarang
menjadikan diri sendiri sebagai pelakunya. kamu termasuk tipe yang mana nih, 1
atau 2?
Dulunya saya termasuk golongan tipe 2, orang yang mengeluh,
sedih, kecewa bahkan putus asa terhadap diri sendiri. Namun setelah saya
renungi, ternyata saya tak jauh berbeda dengan layaknya seorang pembunuh, karena
perasaan tersebut termasuk sebuah hukuman
yang tak sehat bila terus dilakukan, apalagi sengaja dirasakan berlarut-larut, tindakan
ini sama saja bunuh diri secara perlahan. Jika dipikir lagi begitu jahatnya
saya saat itu, padahal saya telah berusaha memberikan yang terbaik, tak
masalah karena itu dulu. So, adakah yang mengalami hal yang sama?, atau saat
ini kamu sedang menghukum diri sendiri?, Jika iya, mau sampai kapan?
Pengalaman di atas mengubah pola pikir saya, ternyata
golongan tipe 1 adalah solusi yang tepat beranjak dari kekecewaan. Mengatur strategi
dengan matang agar tak menerima kejutan yang serupa lagi, mengeluh, sedih,
kecewa itu hal yang wajar dan boleh-boleh saja, asal tak berlarut jika perlu jadikan
keadaan tersebut menjadi batu loncatan menuju hasil yang maksimal. Kelebihan
dan kekurangan adalah hal yang relatif, kenapa begitu?,
Pernahkah kamu menginginkan sesuatu yang mana tak sedikit
orang yang mengehindari hal tersebut?
Contoh, seseorang yang berbadan kurus memiliki impian berat
badannya bertambah sedangkan di sisi lain juga banyak orang yang memiliki berat
badan yang berlebih memiliki impian badannya segera kurus. Jadi dengan demikian,
semua tergantung sudut pandang kita dalam merespon sesuatu dan di sinilah kita
dilatih untuk membiasakan diri merespon positif setiap keadaan yang ada atau
peristiwa yang terjadi. Apa jadinya jika ada seseorang yang terus berusaha memaksimalkan
kelebihan dan terbiasa mencari sisi positif dari kekurangan yang dimiliki?,
Tentu, hidupnya akan mindful dan penuh kebersyukuran.
Oleh karena itu, bagi saya penerimaan diri secara utuh merupakan
sebuah pencapaian yang terus saya syukuri hingga saat ini, tak rumit, hanya perlu menerima
utuh untuk segala hal yang hadir dan mempelajari
apa-apa yang perlu diperbaiki dari segala bentuk peristiwa yang telah terjadi.
Sampai jumpa di jurnal selanjutnya. See you,,
Komentar
Posting Komentar