Tidak Perlu Memahami Semua Orang

Terkadang lingkungan memang menuntut kita untuk memahami apa yang terjadi, khususnya dalam perihal memahami orang lain yang notabennya dekat dengan kita, seperti sanak keluarga, teman, bahkan kerap kali terjadi, keadaan juga meminta kita untuk memahami orang lain, entah siapa orangnya. Begitulah konsensus sosial yang ada, mengajak kita untuk saling memahami satu dengan yang lain.

Namun apakah itu perlu?

Jika dilihat dari urgensinya budaya seperti itu melindungi secara subjektif untuk bisa aman dari lika-liku hidup bermasyarakat. Jika ditanya perlu, jawabannya perlu, namun tidak harus semuanya dipahami. Saya akan memberi contoh keadaan yang kerap kali meminta untuk dipahami, sebagai seorang perempuan yang sudah berkepala dua plus-plus.., tak jarang sanak keluarga bahkan teman yang menanyakan pertanyaan seperti, Kapan mau nikah?, Kerja di mana?, Sudah punya tabungan kan?, dan uniknya pertanyaan sensitif ini sudah menjadi budaya. Tidak ada yang keliru dengan pertanyaan yang terlontar, namun sebagai seseorang yang diminta untuk menjawab hanya merasa tidak nyaman dengan respon yang didapat setelah menjawab pertanyaan. Lebih-lebih jika jawaban yang diberikan mengecewakan, membuat keadaan serasa semakin tak berpihak. Namun lagi-lagi itulah yang kerap terjadi dan anehnya pertanyaan semacam itu sering kali menjadi prolog perbincangan.  

Padahal banyak prolog lain yang saya rasa lebih nyaman digunakan, seperti halnya menanyakan kabar, bercerita pengalaman, dan lain-lain. Tapi ya sudahlah, memahami  orang lain memang tak semudah yang dibayangkan, bisa jadi karena terfokus untuk bisa memahami orang lain kita lupa bahwa diri sendiri juga butuh dipahami. Inilah salah satu dampak bila kita mencoba untuk memahami semua orang, lalai dengan kebutuhan pribadi.

Menjadi catatan penting, pada realitanya memang tidak semua orang harus dipahami dan hal yang pasti, tidak ada kehidupan yang sempurna, orang terkaya sekalipun. Karena kita hidup bukan untuk dipahami dan memahami, seperti yang saya katakan di jurnal sebelumnya tujuan hidup itu, ya kehidupan itu sendiri.

Lalu bagaimana sikap yang sebaiknya dilakukan saat keadaan meminta untuk dipahami sedang di waktu yang bersamaan diri sendiri juga meminta untuk dimengerti?,

Jawabannya ada di tanganmu, dan perlu diingat tidak semua keadaan harus dipahami, titik.

Menjalani hidup dengan masyarakat yang paham kolektivitas, kerukunan dan kepentingan kelompok lebih diutamakan dari kebebasan pribadi dan hal yang bisa lakukan selaku individu ialah memiliki sikap mampu mengendalikan diri sendiri demi ketahanan kelompok. Dengan tujuan mulia,

“Agar kamu, saya, dan kita semua bisa hidup lebih bahagia dalam kerukunan”

Mudahnya, cukup jalani hidup dengan saling menghargai satu dengan yang lain, bukan hidup penuh kekhawatiran akan respon orang lain yang diberikan kepada kita. Dengan begitu hidup ini tidak melulu terfokus untuk memahami orang lain tetapi juga akan memperhatikan kebutuhan diri  bahkan merupakan bentuk aktualisasi mencintai diri sendiri. Sikap saling menghargai yang apa adanya akan membuat antar sesama menjadi lebih rukun.

Selanjutnya, saya akan berbagi 2 tips untuk kamu yang sedang membaca jurnal ini. Pertama, tidak perlu memasang antena untuk mengetahui atau ikut campur urusan orang lain, karena itu sangat mengganggu. Kedua, tidak bersikap terlalu sensitif terhadap reaksi masyarakat. 

Sebenarnya, 2 tips ini ditujukan pada bagaimana kita bisa mengontrol diri sendiri, cukup hargai cara hidup dan berpikir orang lain, lalu belajarlah untuk bisa hidup bersama hal-hal yang baik. Dengan begitu, hidup ini akan tenang tanpa kekhawatiran.

Sampai jumpa di jurnal selanjutnya. See you,,


Komentar