Apa Benar 'Diam' Tidak Menambah Masalah?
Tahukah anda, dengan pepatah ‘diam itu emas”?
Taruhlah anda mengetahuinya, apakah anda setuju dengan pepatah tersebut?
Setuju atau tidak itu pilihan, sah-sah saja memilih yang mana. Namun bagaimana dengan kalimat,
“Lebih baik diam, setidaknya diam tidak menambah masalah”
Fenomena yang banyak terjadi, diam dijadikan solusi dalam menghadapi masalah dan mirisnya berharap dengan diam tidak akan menambah masalah. Seseorang yang memilih dia di keadaan tertentu bisa disebabkan beberapa faktor. Faktor-faktornya sangat beragam, lebih-lebih ketika momen bertengkar dengan orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, dan banyak terjadi ‘diam’ banyak digunakan ketika bertengkar dengan pasangan.
Memang, diamnya seseorang memiliki tujuannya masing-masing ada alasan besar di baliknya, seperti alasan tidak ingin memperpanjang masalah, menambah keributan antar pihak, atau menambah masalah baru. Kuran lebihnya begitu, bukan?
Mengharap keadaan kembali baik-baik saja dengan ‘berdiam’, hanyalah khalayan semata bagi sebagian orang. Karena kesalahpahaman dapat diluruskan dengan terjalinnya komunikasi, baik itu dengan menceritakan cerita sebenernya, klarfikasi, menyampaikan maaf, hingga mengambil sebuah keputusan agar apa-apa yang sedang dihadapi dapat terselesaikan dan kembali baik-baik saja.
So, masih berlakukah ‘Diam itu emas”?
Diam hanya membuat orang lain bertanya tanya dengan keadaan anda, diam anda juga akan memicu orang lain menerka-nerka tentang anda yang tidak-tidak, hanya satu hal yang pasti adanya yaitu diam tidak akan menyelesaikan masalah bahkan rawan membuat masalah semakin rumit menemukan titik terang.
Lalu bagaimana jika tujuannya memang membuat orang lain bertanya-tanya?
Kembali lagi, pada dasarnya setiap orang memiliki alasan dan tujuan masing-masing dan itu hak mereka, sah-sah saja. Jika benar tujuannya begitu secara tidak langsung seseorang tersebut enggan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Lagi-lagi itu pilihan, please be wise!
Eitts, tunggu dulu!
Ada kok, seseorang yang memilih diam untuk tujuan memberikan pelajaran, alias menghukumnya dengan cara ‘diam’. Apakah itu, boleh?
Boleh atau tidak itu tak jadi masalah, yang jadi masalah apabila target tidak menyadari maksud diamnya seseorang, karena kita semua tahu bahwa kepekaan seseorang tidak sama ada yang fast respond, slow respond, bahkan nothing respond. Karena apa?, tak lain tak bukan karena tidak ada komunikasi di antara dua belah pihak yang bersangkutan. Jika boleh berpendapat,
“syukur-syukur kalau orangnya peka lalu meminta maaf, jika tidak?”
Ya sudahlah,
Hal seperti ini kerap kali terjadi di dalam momen perselihan antar kerabat, sahabat, lebih-lebih ketika bertengkar dengan pasangan. Faktanya, diam hanya membuat kedua pihak yang bersangkutan saling bertanya-tanya dengan keadaan yang ada, dan akhirnya informasi yang didapat tidak mewakili keadaan yang sesungguhnya bahkan jauh berbeda. Oleh karena itu, diam hanya memperluas bahkan memunculkan masalah baru pada akhirnya.
Tak hanya dalam hal perselisihan, ‘diam’ juga cukup berpengaruh dalam usaha mengembangkan usaha diri. Seperti halnya ketika seseorang yang takut berbicara di depan banyak orang, atau di depan kelompok sekalipun, momen tersebut akan menggangu perkembangan dirinya, khususnya dalam hal membangun relasi dan meningkatkan kualitas berkomunikasi.
Oleh karena itu, mulai sekarang beranikan diri untuk berbicara seapa adanya dengan berkata yang sebenarnya, tegas, dan jujur. Jangan biarkan waktu terbuang hanya untuk sekadar menerka-nerka hal-hal yang tak pasti.
Sumber:
https://www.kompasiana.com/eminis/552aef8f6ea8346a4d552d06/tak-selamanya-diam-itu-emas
Komentar
Posting Komentar