Masih Menganggap Pertengkaran itu Wajar? Stop, Jangan Baca ini!

Pertengkaran adalah hal lumrah terjadi di dalam sebuah hubungan antar dua pihak atau lebih. Namun, bukan berarti pertengkaran hal yang selamanya dipandang receh dan sepele kerena pertengakaran kecil akan tertimbun menjadi besar bisa terus dilakukan, ini itu jadi persoalan, kesalahan kecil dibesar-besarkan, dan hal-hal yang lain yang tidak saya sebutkan di sini. Menjalin hubungan adalah sebuah pilihan yang berlandaskan komitmen antar pihak yang berperan, bukan salah satunya tapi keduanya.

Ada sebuah pepatah ‘pertengkaran suami istri itu bagaikan membelah air dengan pedang’, pepatah ini cukup berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah perceraian, karena anolaginya air yang terbelah akan menyatu dan kembali seperti semula, karena itulah pertengkaran menjadi yang lumrah terjadi dalam sebuah hubungan. Namun, jika ditelaah lebih dalam maksud dari pepatah ini ialah terfokus pada pedang bukan air, pedang yang membelah air dapat melukai apapun yang ada di dalamnya. Analogi ini dapat kita temukan dari hubungan sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja namun hatinya bergejolak tak karuan.

Menjadi hal yang mustahil juga jika sebuah hubungan tanpa sekali pun bertengkar, namun bukan berarti pertengkaran hal yang wajar bahkan bisa dikatakan pertengkaran tersebut akan berdampak sangat fatal, seperti terjadi perceraian atau perpisahan karena banyak faktor yang membuat pihak yang bersangkutan memilihnya sebagai solusi permasalahan.

Menghindari pertengkaran menjadi hal wajib bagi anda saat menjalin hubungan. Salah satunya dengan saling menghargai satu dengan yang lain dan saling menghormati. Karena jika tidak demikian, salah satu pihak akan merasa memiliki harga diri yang lebih tinggi dibandingkan pasangaannya. Jika terjadi demikian, besar kemungkinan ada pihak yang mencerca dan dicerca, menyerang dan diserang, tanpa bisa berpisah dan mencintai. Berpisah gak mau, bertahan udah gak cinta, terus maunya apa?, Keadaan semacam ini hanya akan membawa hubungan semakin tidak sehat dan mau tidak mau perlahan-lahan membawa anda memilih perpisahan yang sangat anda hindari.

Pada umumnya, sepasang kekasih akan berkata “Kami memang sering bertengkar tapi juga mudah berdamai”, kalimat tersebut sudah menempatkan pertengkaran di dalam hubungan itu tak memiliki pengaruh fatal bahkan lumrah dijadikan bumbu kehidupan sepasang kekasih. Padahal sebuah pertengkaran yang diselesaikan dengan baikpun tidak patut dibanggakan karena saat bertengkar otak dan kulit seseorang akan mengisut setiap harinya. Kasian gak tuh?

Sedikit terheran bila ada seseorang yang merasa senang kerena menang saat bertengkar dengan seseorang yang jelas-jelas dicintainya, bagaimana tidak?, dengan senagaja berdebat dan akhirnya hanya melukai orang yang bermakna, dan sadar atau tidak sadar akan membuat pihak yang kalah atau yang berhasil dikontrol akan merasa malu sebab diserang orang yang paling dipercayainya di momen yang mengecewakan. Sah-sah saja memang, namun apakah benar seseorang itu senang, bagi saya dia hanya terlalu melibatkan egonya tanpa menyadari perlakuannya sangat berdampak pada keharmonisan hubungan yang sedang dijalani. Pertengkaran hanya akan membuang-buang waktu dan energi, karena semakin seseorang berusaha agar tidak terjadi pertengkaran semakin tidak mungkin tidak terjadi pertengkaran.  

Menurut Yoon Hong Gyun, banyak sekali orang yang mencampur adukan antara cinta dan kesedihan, mereka mengira bahwa tangisan saat marah, rasa murung saat cemas, patah hati saat sedih merupakan rasa sakit yang diakibatkan oleh cinta. Padahal, hakikatnya cinta adalah cinta, rasa sakit adalah rasa sakit itu sendiri, jika anda sebut ‘cinta ini sangat menyakitkan’, perlu dipertanyakan kembali pada diri anda karena karena cinta yang terlalu menyakitkan itu bukanlah cinta. So,,?

Saling menghargai dan menghormati akan membuat pihak yang menjalin berada di posisi setara sehingga keduanya akan lebih percaya satu dengan yang lain karena perumpamaan setara meliputi segala aspek, terutama harga diri masing-masing. Meminimalisir akan pertengkaran akan menjadi hubungan lebih sehat dan bahagia karena tidak ada luka yang melukis kanvas alur kisah mereka.

 Menjadi catatan penting, bahwa anda tidak harus selamanya mencintai orang yang anda cintai sekarang, bisa jadi perpisahan adalah hal yang terbaik yang bisa kapanun terjadi. Namun, anda juga perlu melakukan tindakan yang memicu perpisahan jika saat ini anda masih mencintainya. Menurut Yoon Hong Gyun, berdoa agar mencintai orang yang dicintai adalah hal yang penting dilakukan, karena baginya cinta adalah emosi yang sangat pelik sehingga rentan menimbulkan kekacauan.

Jika dianalogikan, pasangan itu ibarat tim, tim sesolid apapun pasti mengalami konlik dan pertentangan namun membunuh tim adalah hal yang paling ceroboh, tim akan kalah ketika anggotanya saling menyerah dan sibuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sementara keadaan tersebut akan membuat pihak berperan akan merasa gusar sedangkan di sisi lain, khalayak akan menilai ‘tim itu menyedihkan’. Thank you,,

NB: Masih mau tengkar?, uups,,

Penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang seni menghargai, terus ikuti blog ini ya,,

 

Sumber:

Buku ‘How To Respect My Self’, Yoon Hong Gyun.

 

   

Komentar