Perpisahan itu Lumrah Terjadi, So Don’t Worry!

Ada fenomena yang lumrah terjadi bahkan bisa terjadi di setiap keadaan namun sangat dihindari oleh kebanyakan orang, apa itu?, perpisahan. Bak dedaunan yang khawatir menguning karena bisa membuatnya terpisah dari batangnya, ya, hal itu tak jarang membuat orang sedih berkelanjutan bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah perpisahan. Mari kita spesifikkan pembahasan, bahwa perpisahan yang begitu dihindari oleh kebanyakan orang ialah perpisahan yang membuat kita berpisah dengan orang yang memberi makna dalam hidup kita. Mudahnya, momen perpisahan dengan orang terkasih akan memberi warna mencolok dalam kanvas kehidupan seseorang, menjadi momen tak terlupakan, bahkan bisa membuat seseorang yang mengalaminya tidak bisa memaafkan momen tersebut karena menanggung perihnya kehilangan.

Hal-hal yang bisa membuat seseorang enggan melewati momen perpisahan ialah rasa ketergantungan terhadap orang lain, tidak bisa berbuat apapun tanpa kehadirannya, bahkan merasa tidak bisa hidup tanpa orang tersebut. Adanya rasa saling memiliki bisa membuat seseorang menggantungkan hidupnya kepada orang lain, terbiasa bertemu, hingga akhirnya saling memahami satu sama lain, lali timbul rasa khawatir dan ketakutan jika suatu saat terjadi perpisahan. Benar begitu?

Uniknya, di sisi lain,  beberapa orang juga bisa merasa takut akan perpisahan sebelum ia memiliki orang yang diinginkan karena baginya perpisahan atau perselisihan bisa terjadi bila ia menyatakan bahwa ia ingin memiliki orang tersebut. Trennya, enggan menyatakan hanya karena takut kehilangan dan memilih, ‘Mencintai dalam Diam’, dan berharap suatu saat nanti bisa dipersatukan, meski saat ini terbebani perasaan sendiri dalam gumam. Waah, siapa nih yang lebih memilih mencintai dalam diam?

    Pernahkah anda takut jatuh dari sepeda?, tapi anda masih menggunakan sepeda kemanapun meski anda bisa saja terjatuh kapanpun karena bermacam faktor. Dan di suatu momen naas, anda terjatuh dari sepeda karena tidak seimbang menggunakannya, dan akhirnya anda bisa merasakan bagaimana sakitnya seseorang jatuh dari sepeda, terluka, tak menyenangkan, dan bisa jadi membuat anda terbaring beberapa hari ke depan untuk memulihkan keadaan kembali baik-baik saja. Hanya beberapa hari, bukan selamanya. Begitupun dengan perpisahan, membuat sedih bagi orang yang mengalaminya dan memang membutuhkan waktu untuk menerimanya penuh, tapi tidak selamanya. Ingat! pedihnya hanya sementara bukan selamanya.

Seperti yang dikatakan oleh Alvi Syahrin;

Selamat Tinggal Adalah Senja yang Usang

Di dalam bukunya ‘Jika Kita Tak Pernak Baik-baik Saja’, bahwa kebanyakan orang sangat khawatir dengan keadaan setelah terjadi perpisahaan, ‘kesepian’. Padahal, bulan kesepian telah mengajarkan kita untuk tetap indah meski sendirian. Masih khawatir?

Dampak terburuknya, bisa membuat seseorang tidak bisa menerima apa yang terjadi, menjadikan diri sendiri sebagai pelaku kejahatan dalam perpisahan yang besar kemungkinan bisa membuat seseorang tersebut tidak memaafkan diri sendirinya selama hidupnya karena terkepung perasaan bersalah. Rasa bersalah hanya akan menghambat seseorang melakukan aktivitas yang membuatnya berkembang ke arah lebih baik, karena ia khawatir kejadian yang sama, parahnya, bisa membuat ia enggan menjalin hubugan baik dengan baru dan memilih menjalani kehidupan dengan rasa sepi agar tak ada perpisahan yang serupa.

Hilangkan kemelekatan diri terhadap orang lain, jadikan diri anda sebebas yang anda mau tanpa menggantungkan hidup anda kepada orang lain, karena itu sangat mengganggu kebebasan orang lain pula. Jika perpisahan adalah jalan yang harus anda jalani, tak apa, sejenak mengistirahatkan hati dari hal-hal yang tidak mengindahkan itu jauh lebih baik dari pada mempertahankannya dalam kebimbangan.

Apa yang saya lakukan untuk melebur kekhawatiran akan perpisahan?

Jawabannya hanya satu, melatih diri hingga hal itu berani anda sebut kejadian yang lumrah terjadi.   

Jadi, kekhawatiran akan perpisahan itu memang wajar dialami namun jika terus mengkhawatirkan hal yang lumrah terjadi itu sama saja mengekang diri dalam aquarium ketakutan terhadap hal yang pasti dialami seluruh anak manusia. Karena bila kita amati lebih dalam perpisahan telah biasa kita lakukan setiap harinya bahkan di setiap keadaan yang kita alami, berpisahan dengan orang-orang tertentu. Tenang-tenang saja, karena perpisahan tersebut tidak membuat seseorang yang mengalaminya berpikir bahwa pertemuannya dengan orang yang ditemuinya adalah pertemuan terakhir. Rasa takut karena khawatir tidak bisa berbincang, berguraau, atau bahkan bertemu lagi. Tak salahnya bukan? melatih diri mempersiapkan perpisahan tiap kali bertemu seseorang, hingga kita bisa melihat dan menanggapi setiap kejadian dengan sewajarnya saja. Semuanya akan biasa-biasa saja bila sudah mengalaminya, dan mari buat fenomena ini menjadi hal yang lumrah terjadi, bisa terjadi pada siapapun, dimanapun, dan kapanpun. So, don’t worry, you are not alone!

 

Untuk mengetahui info lebih dalam mengenai kesehatan dan kebebasan diri dari segala macam keterbelengguan yang ada, anda bisa mengunjungi alamat instgram @meditasipsikologis

 

Sumber:

Alvi Syahrin, 'Jika Kita Tak Baik-baik Saja'

Yoon Hong Gyun, 'How To Respect My Self'

Komentar