Sendirian? Siapa Takut!

Senang sekali menyambut pagi ini, menjadi istimewa karena hari ini sengaja saya luangkan waktu untuk memberi reward terhadap diri sendiri yang sudah berusaha disiplin terhadap mimpi yang tertulis. Saya berencana mengajak salah satu teman saya untuk menemani hari istimewa ini,

“Nasywa, jalan-jalan yuk!”, ajak saya melalui pesan Whatsapp.

“Kapan?”, tanyanya balik.

“Hari ini, yuk!”

“Maaf banget nih, lagi banyak tugas”

“Yah,, gak bisa ya, ya udah semangat nugasnya”, ujar saya.

Mengajak teman lain adalah tindakan yang saya lakukan setelah Nasywa tidak mengindahkan ajakan saya, namun, tidak ada satupun teman yang bisa menemani. Sedih, iya, serasa dunia tak lagi sama seperti dulu yang bisa kapanpun meminta teman untuk sekadar menemani berkeliling Kota Jogja.

Karena dirasa sudah taka da lagi teman yang bisa dibujuk, akhirnya saya terdiam merenungkan pilihan antara tetap berangkat atau membatalkannya, selang berapa detik timbul pertanyaan dalam benak saya;

“Kenapa harus membatalkannya?”

“Kenapa harus ada yang menemani?”

“Takut sendiri?”

Tiga pertanyaan di atas membuat saya tersadar bahwa ada saat-saat tertentu dalam hidup taka pa bila dilakukan sendiri, ya, seperti rencana istimewa yang saya buat ini. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat memanjakan diri seorang diri. Beberapa tempat telah saya incar untuk dikunjungi hari ini, salah satunya Toko Buku Gramedia, Toko Cotton Island, dan ke Toko Strawberry untuk sekadar membeli kutek kuku.

Menikmati suasana Kota Jogja di pagi hari seorang diri memang meneduhkan terlebih tujuannya untuk menyenangkan hati, isitimewanya semakin terasa walau menikmatinya sendiri. Melihat jalanan kota dengan beragam keadaan membuat saya menyadari bahwa selama ini kurang memperhatikan keadaan sekitar, besar kemungkinan hal ini sadari karena berkeliling kota seorang diri. Sendiri lebih membuat saya menghargai keadaan yang sedang terjadi dan lebih memperhatikan apa-apa yang terlihat di pandangan mata.

“Waah,, sendiri itu tak sehoror yang dibayangkan”

Seketika saya teringat dengan beberapa teman saya yang menjalani kesehariannya dengan mandiri, apa-apa sendiri. Memang, teman-teman yang seperti itu cenderung orang introvert namun tidak antisocial, lebih nyaman melakukan aktivitas sehari-hari seorang diri.

Lanjut cerita,

Setelah sampai di Toko Buku Gramedia, perasaan bahagia tentu hadir melengkapi, melihat warna-warni buku membuat saya terlen dan mau berlama-lama di tempat ini, ada hal yang membuat saya belajar akan sesuatu bahwa ketika tujuan telah jelas mau ke mana dan untuk apa biarpun melakukannya seorang diri maka tujuannya juga akan tercapai sesuai ekspektasi, terlebih tujuan yang dimaksud bersifat subjektif. So, tak perlu khawatir jika harus melakukannya sendirian tanpa bantuan orang lain.

Keadaan ini membuat saya kembali mengingat bacaan seorang Alvi Syahrin bahwa manusia sejatinya memang harus siap untuk sendirian karena di waktu-waktu tertentu manusia akan diminta berjuang sendiri tanpa bantuan seorang pun dan memang tidak bisa dibantu dengan siapapun. Contohnya, balita yang sedang belajar berjalan, seorang ibu yang sedang melahirkan, dan seseorang yang sedang belajar mencintai diri sendiri.

Berani berangkat seorang diri adalah bentuk usaha mencintai diri sendiri setelah berhasil memenuhi harapan, sebuah kebanggaan bagi saya selaku pribadi yang memiliki banyak teman dan suka berinteraksi dengan banyak orang. Tak menafikkan diri, benar rasanya bahwa selama ini kurang menghargai apa yang dinamakan ‘sepi’. Hmm,, jadi teringat lagu Mas Tulus juga deh, hihi,,

Sambung cerita,

Setelah membaca beberapa buku hingga memutuskan untuk membeli buku, di perjalanan menuju ke arah parkiran saya dibuat setuju dan mengindahkan kalimat yang pernah saya baca tempo lalu. Begini kalimatnya,

“Kesendirian ini membuat seseorang banyak mengerti bahwa dunia ini begitu sempurna untuk dinikmati”, dan sekarang saya termasuk orang yang dimaksud dalam kalimat tersebut.

Kesendirian membuat saya belajar untuk bisa hadir utuh di setiap keadaan yang saya lakukan dan benar-benar memahami tujuan dari aktivitas tersebut. Sejauh ini tak jarang rasanya mengindahkan monkey minds yang murni hadir dari dalam ini, yang membuat saya gagal fokus dalam melakukan apapun, tak lain tak bukan karena diri tidak menyadari penuh atau mudahnya tidak mindful dengan kegiatan yang sedang dilakukan.

Perlu digaris bawahi, pelangaman ini memberi pembelajaran yang belum saya dapatkan sebelumnya, bahwa ketika seseorang bisa mengaplikasikan hidup mindful dalam kegiatan sehari-sehari maka seseorang tersebut akan lebih menghargai setiap usaha, menyadari penuh hal-hal yang terjadi, bahkan mengingat kejadian yang telah dilalui. Terlebih sebagai manusia yang memiliki tujuan masing-masing hidup mindful akan menjadi resources terpenting dalam mencapai impian tersebut, fokus terhadap usaha dan tujuan yang sudah di sepakati.

So, tidak masalah jika keadaan menyuruh anda melakukannya seorang diri, karena akan banyak kejutan yang disiapkan semesta untuk orang-orang yang mau berjuang mandiri.

“Jalan-jalan sendirian?, siapa takut”.

 

Sumber:

Buku, ‘Jika Kita Tak Pernah Baik-baik Saja’, Alvi Syahrin

https://www.bola.com/ragam/read/4309844/40-kata-kata-bijak-tentang-kesendirian-ambil-hikmahnya

https://www.hipwee.com/opini/menikmati-kesendirian/

 

Komentar